Angkat Permainan Benthik, Ghithrif Jawara LKIR

Permainan benthik adalah permainan tradisional  yang disukai oleh anak-anak pada zaman dulu.  Permainan yang biasanya dimainkan dua kelompok ini menggunakan media kayu atau bambu. Dua potongan kayu atau bambu  dipotong  menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil.

Siapa sangka permainan  yang populer di kalangan masyarakat Jateng dan DIY ini  mengantarkan Ghithrif siswa Kelas X SMA Nasima menjadi Juara 1 Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) Bidang Humaniora dan Ilmu Sosial Tingkat SMA/SMA Kota Semarang. Ghithrif berhasil meyakinkan dewan juri dan mengalahkan para pesaingnya dari SMA/SMK negeri/swasta  di Kota Semarang.

“Awalnya ketertarikan saya yaitu saat melihat banyak anak-anak bermain. Permainan yang mereka mainkan adalah benthik. Saya heran, jaman sekarang kok masih ada anak-anak yang memainkan permainan itu. Dari situ kemudian muncullah niat untuk melakukan penelitian ini. Disamping itu saya pernah memiliki pengalaman melakukan penelitian   permainan tradisional juga di Palu waktu itu. Bermodal pengalaman tersebut saya punya dasar bagaimana cara membuat karya ilmiah tentang penelitian ini. Terus saya menyampaikan ke Bu Deni Guru Pembimbing saya. Kebetulan juga Bu Deny  pernah melakukan penelitian dalam bidang yang sama. Akhirnya kami berkolaborasi. Hasilnya ya ini Juara 1” kata Ghithrif  menunjukkan pialanya saat ditemui Merput.

Menurut Ghithrif permainan benthik dapat dijadikan media untuk membentuk karakter kenasimaan  pada  anak. Nilai-nilai inti Nasima yang termuat dalam Nasima Yes dapat ditanamkan melalui permainan benthik ini.

“Misalnya karakter santun komunikatif. Dalam permainan benthik masing-masing kelompok harus berkomunikasi secara santun, tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak baik. Pun ketika memberikan hukuman kepada kelompok yang kalah juga harus menggunakan kalimat yang santun, tidak boleh menyakiti.  Kemudian karakter aktif bekerja sama, untuk memenangkan permainan ini, kan masing-masing anggota kelompok harus aktif bekerja sama. Termasuk juga nilai-nilai atau karakter Nasima lainnya dapat dipraktekkan melalui permainan ini” ungkap  Ghithrif.

Bagi Ghithrif, ini adalah kesekian kalinya ia mengikuti lomba dan  meraih prestasi juara. Semenjak SMP ia sudah melanglang buana ke berbagai kota di Jawa dari asalnya di Palu Sulawesi Tengah. Ia pernah menjuarai Menulis Essay  Bahasa Inggris, LPIR Tingkat  Nasional, PAI, dan menjadi Duta Sanitasi Prov. Sulawesi Tengah.

Pemilik nama lengkap Muhammad Ghithrif Gustomo Putro lahir di Palu, 10 September 2001. Putra pertama pasangan Gustomo dan Neil Al Mardhiah Hamze ini satu-satunya putra Sulawesi yang belajar di SMA Nasima. Alumni SMP Al Azhar Mandiri Palu ini memang sejak awal  memiliki keinginan untuk menimba ilmu di luar Sulawesi.

“Saya sudah punya minset kalau ingin punya pengalaman yang banyak dan menjadi anak   mandiri sekolahnya harus di luar pulau. Dari situ saya belum mikir pulaunya yang mana begitu. Karena sering ikut Lomba di Jakarta, Bekasi, Bogor maka referensinya ya ke Jawa. Kemudian saya googling di internet mencari sekolah islam terbaik se-Indonesia. Nah yang keluar itu nama Sekolah Nasima. Setelah itu saya berkonsultasi dengan orang tua .   Mereka setuju.  Akhrnya daftar ke Nasima” cerita Ghithrif bersemangat.

Ghithrif adalah contoh anak muda yang penuh semangat, pekerja keras, dan penuh disiplin. Karena prestasi dan kerja kerasnya ia mendapatkan beasiswa  dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

Pemuda berdarah Manado dan Makassar yang suka membaca, mengaji, dan mengerjakan soal-soal ini kelak selepas SMA berkeinginan melanjutkan kualiah di fakultas kedokteran. Semoga keinginanmu terkabul Nak. (Muslihudin el Hasanudin). 

 

Berita Terbaru

Statistik Pengunjung

3415917
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total pengunjung
648
1818
2466
3407106
26715
31296
3415917
Your IP: 54.224.230.51
Server Time: 2017-09-25 13:22:56

Link Sekolah

Dinas Pendidikan Kota Semarang