Merawat Bhinneka Tunggal Ika dengan Dolalan Tradisional

Ratusan anak-anak dalam kelompok-kelompok beriring memasuki arena upacara. Pakaian mereka sangat unik. Semua mengenakan pakaian adat  nusantara lengkap . Ada yang mengenakan pakaian  adat Bali, Minang, Jawa, Batak, Papua dan banyak lagi lainnya.

Yang menarik masing-masing kelompok anak-anak tersebut membawa permainan tradisional. Lihatlah, anak-anak berpakaian adat Jawa masuk dengan menaiki egrang. Langkahya kompak dan penuh semangat, seolah ingin menunjukkan jiwa pantang menyerah kepada hadirin yang memadati halaman upacara.

 Baris berikutnya kelompok anak-anak masuk dengan membawa kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah pisang. Langkah mereka kompak seperti pasukan berkuda yang hendak berparade. Sejurus kemudian mereka menari dan menyanyi lagu jaranan. Suasana semakin  meriah karena anak-anak yang semuanya siswa SD tersebut tampak antusias dalam menari dan menyanyi.

Jaranan ... Jaranan
Jarane jaran teji
Sing numpak ndoro Bei
Sing ngiring poro abdi
Cek cek nong ... cek cek gung
Jarane mlebu ning lurung

Tidak hanya egrang dan jaranan dari pelepah pisang,   keompok anak-anal lainnya  datang  membawa warak ngendog,  mobil-mobilan dari hati pisang, egrang batok, wayang, layang-layang, dan banyak lagi permainan tradisional lainnya.

Ya, festival dolanan tradisional tersebut merupakan bagian dari kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun  Ke-72 Kemerdekaan RI yang dilaksanakan oleh Sekolah Nasima. Kegiatan yang dihadiri oleh seribu dua ratus civitas akademika YPI Nasima tersebut dipusatkan di Kampus SMA Nasima di Jl. Yos Sudarso kawasan Puri Anjasmoro Semarang.

Ketua Umum YPI Nasima H. Agus Sofwan Hadi yang bertindak sebagai inspektur upacara mengatakan bahwa kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan seyogianya jangan hanya berhenti pada rutinitas upacara bendera saja, tetapi lebih dari itu dapat meningkatkan jiwa patriotisme dan nasionalisme.   .

Agus menambahkan masalah serius yang dihadapi generasi muda sekarang adalah cenderung bersikap individualis,   hedonis,  dan  rentan tergoda  pada hal-hal yang negatif seperti kejahatan narkoba, radikalisme, dan dampak-dapak yang ditimbulkannya.  

Sikap-sikap negatif tersebut adalah ancaman yang sangat serius yang dapat meruntuhkan  semangat nasionalisme, hilangnya nilai-nilai budi pekerti   luhur serta semangat untuk hidup untuk bergotong royong,

“Sangat tepat jika hari ini dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI kita mengangkat tema Dolanan Tradisional Memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika. Keberadaan dolanan tradisional kini makin tergerus zaman, makin terpinggirkan oleh serbuan gadget. Padahal dolanan tradisional itu mengandung filosofi yang sangat dalam. Dengan memainkan dolanan tradisional kita belajar kesederhanaan, kekompakan, dan kerja keras. Dengan memainkan dolanan tradisonal, kita juga telah ikut menjaga kekayaan budaya nusantara yang membentang dari Sabang sampai Merauke” ucap Agus.

Tidak hanya dengan parade dolanan tradisional, acara peringatan HUT RI Sekolah Nasima juga diisi dengan  pertunjukkan drama kolosal “Dolanan Anak”, orasi kemerdekaan, dan makan     tumpeng bersama-sama.

Kegiatan peringatan HUT RI dengan memakai pakaian adat tersebut sudah menjadi tradisi rutin di YPI Nasima sejak tahun 1997.

“Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Kita memiliki 17 ribu pulau, 714 suku, dan 1100 bahasa daerah. Ini anugerah yang harus disyukuri, bukan disesali. Keberagaman itu indah. Karenanya sejak awal mula Sekolah Nasima berdiri kita sudah menanamkan pentingnya menghargai perbedaan, toleransi, dan rasa persatuan dan kesatuan kepada peserta didik. Sikap saling menghargai, toleransi, dan merawat bingkai  Bhinneka Tunggal Ika ini sangat diperlukan oleh peserta didik, karena mereka adalah calon pemimpin bangsa di masa depan” kata Agus.

Dalam akhir amanatnya Agus mengingatkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kekayaan alamnya melimpah. Keindahan alamnya  bak jamrud katulistiwa membentang dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote. Kewajiban  kita sebagai bagian  bangsa Indonesia  adalah mengisi kemerdekaan ini dengan lebih giat belajar dan bekerja keras, tak boleh kenal lelah, tiada henti  bahu membahu, mewujudkan cita-cita pendiri bangsa yakni menjadikan Indonesia  yang toto tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi. (Muslihudin el Hasanudin)  

Berita Terbaru

Statistik Pengunjung

3480033
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total pengunjung
355
1050
2332
3469343
25714
32786
3480033
Your IP: 54.162.166.214
Server Time: 2017-11-21 12:16:46

Link Sekolah

Dinas Pendidikan Kota Semarang