Pupuk Semangat Nasionalisme, Guru Nasima Kibarkan Merah Putih di Pulau Ndana

Karakter nasionalis agamais adalah satu kesatuankarakter yang tidak boleh dipisahkan. Perpaduan keduanya menjadi karakter fundamental bagi generasi bangsa untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Radikalisme, sekularisme, separatisme atau gerakan menyimpang lainnya takkan mampubertumbuhkembang bila setiap generasi bangsa Indonesia memiliki karakter cinta tanah air yang mendalam serta keberagamaan yang kuat. Penyemaian karakter nasionalis agamais yang paling efektif adalah melalui jalur pendidikan. Sekolah Nasima adalah lembaga pendidikan yang sejak berdiri pada tahun 1994 berkomitmen dankonsisten menyelenggarakan pendidikan berkualitas terintegrasi pendidikan karakter nasionalis agamais.

Pendidikan karakter nasionalis agamais bagi peserta didik di KB-TK-SD-SMP-SMA Nasima membutuhkan fasilitator utama, yaitu guru yang berkarakter dan berkualitas. Suatu sistem pembinaan SDM guru disusun yayasan untuk membentuk guru berkarakter nasionalis agamais sekaligus berkompeten untuk menyampaikannya kepada peserta didik.Salah satu upaya unik memperkuat program penguatan pendidikan karakter tersebut adalah mengirim para guru untuk mengunjungi ujung-ujung negeri. Empat titik terluar Indonesia dikunjungi secara bertahap oleh guru Sekolah Nasima yang terbagi dalam tim-tim jelajah. Titik terluar pertama yang dikunjungiadalah Pulau Ndana di ujung selatan gugusan Pulau Rote Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasi penjelajahan kedua dan seterusnya adalah Pulau Weh di Provinsi Aceh sebagai ujung barat, Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara di ujung utara, dan Merauke, Provinsi Papua di ujung timur NKRI.

Program jelajah tersebut dinamai Jelajah Pendidik Merah Putih Sekolah Nasima. Rute dan kegiatanjelajahnya menantang daya juang.Namun, itu semua tak seberat pengorbanan para pendiri bangsasaat berjuang mendirikan NKRI.Bukan sekedar jalan-jalan. Misi idealis diusung tim jelajah pendidik. “Nasima punya prinsip, sebelum berkeliling dunia, kita harus mengunjungi setiap wilayah NKRI sebagai wujud nyata kecintaan kita pada tanah air. Selain mengibarkan bendera dan bernyanyi Indonesia Raya jangan lupa berdoa pada Allah untuk keutuhan dan kejayaan NKRI. Kunjungi dan ziarahi para ulama yang berjasa menyebarkan agama Islam di sana. Kembangkan juga sikap persahabatan dan toleransi atas segala keberagaman yang ditemui. Semoga kegiatan ini mampu memunculkan sikap handarbeni terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pesan KH Hanief Ismail Lc, Ketua Pembina YPI Nasima saat melepas tim jelajah Nasima (26/4/2018).

Jelajah Pendidik Merah Putih Sekolah Nasima pertama ke NTT dilaksanakan selama sembilan hari, 26 April-4 Mei 2018. Tim terdiri dari delapan orang, yaitu Ilyas Johari, Dwi Sukaningtyas, Supramono, Dwi Astuti, M Ramdhan, TY Raharja, Lulu Arifatun, dan Sulastri. Mereka berasal dari unsur pengurus yayasan, manajer, kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Tim mengusung misi “memeluk Indonesia, menggelorakan nasionalisme agama”. Kegiatan utamanya adalah menjejak titik-titik terluar di pantai Ndana serta dua Pos Lintas Batas Negara (PLBN) RI-Timor Leste di Pulau Timor, yaitu PLBN Motaain di Kabupaten Malaka dan PLBN Motamasin di Kabupaten Belu. Di setiap lokasi tersebut tim melakukan kegiatan penguatan nasionalisme agama. Di titik nol kilometer NKRI, tim melaksanakan rangkaian kegiatan menapak tanah dan air ujung negeri, orasi patriotik, menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza,berdoa, dan yel-yel “NKRI Harga Mati”. Saat kegiatan dilaksanakan semua anggota tim jelajah menitikkan air mata haru dan bangga yang bercampur aduk.

 

Ziarah dan Silaturahim

Selain refleksi di titik-titik terluar NKRI tim juga melakukan ziarah, eksplorasi ragam sosial budaya, objek sejarah, dan alam NTT, serta silaturahim dengan pemerintah setempat maupun masyarakat adat yang ditemui. Dalam sembilan jam perjalanan darat di jalur tengah dan selatan Pulau Timor tim sempat mengeksplorasi alam Timor yang kering berbatu. Paduan jalan mulus dan rusak berbatu mengiringi perjalanan. Rumah-rumah tradisional serta ragam kondisi sosial ekonomi masyarakat secara sepintas tim kenali. Silaturahim dengan masyarakat asli Timor, masyarakat nelayan suku Bajo, Bugis, dan Alor di Pantai Papela, bahkan warga eks Timor Timur yang pro NKRI tim lakukan. Kondisi mereka sebagian besar masih memprihatinkan. Bendungan Raknamo yang masih baru dan belum berlimpah air juga tim kunjungi.  Kesenjangan sosial dan belum meratanya pembangunan menjadi bahan dialog saat tim Jelajah Pendidik Merah Putih Sekolah Nasima bersilaturahim dengan Pemerintah Provinsi NTT di Kantor Gubernur NTT I Kota Kupang.

Objek-objekbersejarah NTT dikunjungi tim. Objek sejarah pertama yang dikunjungi adalah Masjid An Nur, masjid tertua Pulau Rote di Kota Baa. Tak jauh dari masjid tertua tim berziarah ke makam Sultan Hasan dan Sultan Nurdin, salah seorang ulama dari Sumatera penyebar Islam di NTT.Objek bersejarah kedua yang dikunjungi adalah rumah pengasingan dan taman perenungan Bung Karno di Ende, Pulau Flores. . Tim mengamati setiap detail rumah pengasingan. Menapak tilas proses pencetusan Pancasila, tim melakukanperenungan, melafal teks Pancasila, dan menyanyi lagu Garuda Pancasila di depan patung Bung Karno. Sebagai insan pendidik, tim jelajah tak terlupa mengunjungi sekolah di kampung nelayan Papela, kampung Ende, dan Desa Komodo.

            Pada saat kunjungan ke pos lintas batas, masjid, kantor pemerintah daerah, dan sekolah tim Jelajah Pendidik Merah Putih Sekolah Nasima menyerahkan bendera Merah Putih, musaf Alquran, sajadah, buku atlas Indonesia dan dunia, serta buku Jas Merah Sang Guru. Buku Jas Merah Sang Guru merupakan buku yang berisi idealisme, konsep, sejarah, dan penerapan pendidikan berbasis karakter nasionalis agamais di Sekolah Nasima. Selain itu ada juga tambahan oleh-oleh tim berupa seperangkat pakaian muslim untuk takmir masjid di Papela serta sekedar tambahan logistik untuk pasukan TNI yang menjaga Pulau Ndana. Barang-barang yang diserahkan oleh tim jelajah merupakan simbol fisik menyatunya nasionalisme agama yang perlu ditebarkan ke setiap anak bangsa.

Sebagai objek tambahan untuk memperkuat kecintaan pada tanah air dan syukur pada kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Pencipta  tim mengeksplorasi keindahan Pantai Mulut Seribu, Danau Kelimutu, Pulau Kanawa, Pari Manta point, Pantai Pink, pulau pasir Taka Makassar, Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Pulau Rinca di Labuan Bajo. Tim juga menyapa langsung komodo, satwa purbakala yang masih ada dan hanya berhabitat di Indonesia.

 

“Saya benar-benar tak mengira.Saya sangat terharu dan bersyukur. Hari ini saya kedatangan tamu-tamu istimewa dari Sekolah Nasima yang berasal dari Kota Semarang, Jawa Tengah.Ternyata masih ada lembaga pendidikan beserta para gurunya yang memiliki idealisme dan semangat untuk menyebarkan karakter nasionalis agamais tanpa batas,” kata Istini, guru sekaligus Kepala SD Papela di daerah ujung selatan Pulau Rote.Baginya, kunjungan Tim Jelajah Pendidik Merah Putih Sekolah Nasimaini menjadi inspirasi sekaligus motivasi tambahan untuk lebih bersemangat mendidik anak bangsa di daerah-aerah terdepan NKRI.(Dwi/Pram)

Berita Terbaru

Statistik Pengunjung

3698529
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total pengunjung
813
559
5317
3685331
25712
31923
3698529
Your IP: 54.159.94.253
Server Time: 2018-05-24 17:53:30

Link Sekolah

Dinas Pendidikan Kota Semarang